Pancasila Itu Diamalkan Dalam Tindakan, Bukan Sekedar Kata-kata! Stop Berkata "Menjaga Pancasila"


Latar Belakang Tulisan Ini
"Pancasila itu sudah usang, busuk dan lapuk kawann..." kata salah satu kawan ketika dalam sebuah diskusi 'ringan' tentang ideologi negara Indonesia. Ada juga yang mengatakan "Pancasila itu adalah utopia dan tidak akan terwujud sampai kapanpun". 
Namun, teman-teman yang lain (yang beda pendapat) juga melontarkan statementbahwa "Pancasila itu sudah baik, sudah sesuai dengan realitas dan masa depan Indonesia, kita ". Entah angin apa yang membuatku malas untuk ikut mengeluarkan pendapat saat itu. Aku coba dengarkan baik-baik apa yang teman-temanku pikirkan tentang Pancasila. Ketika mereka meminta pendapatku, kujawab "Biarlah aku menulisnya dalam sebuah artikel dan kalian bisa baca nanti di Kompasiana". 

Baca juga: Pancasila Sebagai Falsafah Hidup Bangsa Indonesia
Tulisan inilah sebagai jawaban ketika saya ditanya 'apa yang saya pikirkan tentang Pancasila. 
Tapi sebelumnya saya sudah pernah menulis artikel menyangkut Pancasila. Di tulisan itu juga sedikitbanyak saya sudah muat pikiran saya tentang Pancasila.

Pancasila
Pancasila - Lambang Garuda
Semenjak lahirnya negara Indonesia, perdebatan tentang ideologi tidak ada habis-habisnya. Bahkan sejak tahun 1930 hingga tahun 1960-an adalah era dimana para pendiri negara mengalami 'dialektika' yang begitu hebat. Dalam perbedaan, para Founding Fathersmencoba mendalami akar-akar permasalahan dan kepentingan mendesak bangsa. 
Ideologi merupakan pondasi yang penting dalam berdirinya sebuah organisasi, demikian juga halnya dengan negara. Menurut saya, modal dasar berdirinya sebuah negara bukanlah National Geographicnya, bukan pula pengakuan negara lain, tapi yang terutama adalah ideologi. 
Mengapa ideologi menjadi kebutuhan dasar? Karena ideologi itulah yang mencerminkan apa, siapa dan bagaimana kita menjalani kehidupan ini.Indonesia adalah negara yang memiliki 'dasar hidup', yang kita sebut Pancasila. Saya tidak sepakat ketika kita memposisikan Pancasila hanya sebagai landasan yuridis negara Indonesia, tetapi Pancasila juga sekaligus landasan historis, kultural dan filosofisnya kehidupan seluruh bangsa Indonesia.
Indonesia sebagai negara-bangsa yang beragam,  
Yudi Latifdalam buku Revolusi Pancasila (2015) juga mengatakan bahwa "Pancasila itu bukan hanya sekedar landasan dasar negara Indonesia, tetapi merupakan Way of lifenya Bangsa Indonesia". Artinya, dalam setiap gerak dan langkah kita, haruslah pula berjalan pada nilai-nilai dan amanah Pancasila. 
Jadi, kita tidak hanya bertindak sesuai Pancasila ketika kita duduk di bangku sekolah atau tempat yang menggunakan seragam nasional lainnya. Melainkan dalam seluruh proses kehidupan kita, haruslah PANCASILA.
(Saya tidak akan menguraikan apa yang menjadi Sila-sila dan Butir-butir Pancasila disini, karena saya yakin kita semua sudah pernah mempelajarinya, bahkan sejak SD)
Apakah Pancasila Sudah Lapuk?
TIDAKKKK...Yang lapuk adalah ingatan, pikiran dan kekuatan kita. Kitalah yang 'gagal' menjiwai, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Bukan berarti Pancasila itu sendiri tidak bisa diwujudnyatakan. Tapi harus kita akui, bahwa kita malas, bahkan terkadang pengecut. Atauu...kita merasa kuat dan SOK PAHLAWAN sampai-sampai kita mengatakan bahwa kita SIAP untuk MEMBELA dan Menjaga PANCASILA. 
Hellow.. 
Bagaimana mungkin kita menjaga dan membela Pancasila, sedangkan kita tidak mengerti apa itu Pancasila? Haa?
Tidak jarang kita memposisikan Pancasila sebagai 'seorang terdakwa' yang mana harus mendapat dukungan, belaan sampai ke 'penjagaan'. Bagaimana mungkin kita membela nilai-nilai? Itu OMONG KOSONG.
Pancasila itu ada dalam diri kita masing-masing. Kalau kita ingin negara ini berjalan sesuai dengan nilai-nilai dan amanah Pancasila, mari kita nyalakan kobaran semangat nilai-nilai Pancasila itu dalam hati kita masing. Tanpa harus berkata SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA. 
STOP berkata MEMBELA atau MENJAGA PANCASILA!!

Simak: Pancasila Sebagai Dasar Negara Indonesia

Pendidikan, Pancasila dan Karakter

Gagalnya Pancasila tertanam dalam jati diri bangsa ini adalah kegagalan dari pendidikan. Ada yang salah dengan pendidikan kebangsaan yang kita tanamkan kepada siswa. 
Ah, mana buktinya?
Contoh sederhana : *Kita mungkin masih ingat bagaimana dulu semenjak SD kelas satu, guru sudah mengharuskan kita semua menghafal Pancasila. Ketika tidak bisa, tidak jarang kita mendapat sanksi dari guru yang bersangkutan. Akhirnya, karena takut dihukum oleh guru, kita memaksakan diri untuk menghapal Pancasila (Sila-sila maupun butir-butirnya). PKN yang diharapkan untuk membuat kita paham akan kebangsaan dan kenegaraan kita, bahkan tidak punya pengaruh!
Setelah kita tamat SD, barangkali sudah mahir menghapal Pancasila. Kemahiran menghafal ini kita bawa sampai ke SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Namun, satu yang jelas adalah bahwa semenjak kita mendengar Pancasila, menghafal Pancasila bahkan sampai kita bosa mendengarnya ketika upacara Senin 
Dari awal, sekolah secara tidak langsung sudah salah dalam memberikan pemahaman akan Pancasila. Siswa tercetak sebagai makhluk-makhluk penghafal. Salah satunya hafalannya paling kuat adalah PANCASILA.
Pemerintah, Pancasila dan Keteladanan
Saya termasuk salah seorang yang menolak seminar-seminar EMPAT PILAR yang dilaksanakan oleh MPR. Sehebat apapun pemerintah melakukan Sosialisasi, Edukasi, Empowerment, Enablement dan Protectingmenuju masyarakat yang berPancasila, tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa jika para pejabat masih KKN,'sikat sana-sini" dan berbagai perilaku yang tidak mencerminkan Pancasila. 
Selain pendidikan, salah satu cara terbaik menanamkan Pancasila kepada jiwa masyarakat adalah dengan keteladanan. Pemerintah, selaku pemegang kekuasaan dan pelayan masyarakat harus terlebih dahulu menunjukkan sikap dan perilaku yang Pancasila. Tanpa itu, mustahil terwujud yang namanya masyarakat Pancasila. Ibaratkan sebuah keluarga, pemerintah adalah orang tua dan rakyat adalah anak. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bahkan anak mendapat pendidikan yang pertama dan terutama dari orangtua. 
Berbicara keteladanan, tentunya kita tidak bisa lepas dari tokoh-tokoh di berbagai elemen. Mulai dari tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pendidikan, akademisi, tokoh mahasiswa dan pemuda dan berbagai ketokohan lainnya merupakan elemen penting dalam membumidaratkan Pancasila.   
Penutup
Indonesia sejak berdirinya adalah negara yang Bhineka Tunggal Ika. Tentu kita tidak ingin karena kedangkalan berpikir kita akhirnya membawa bangsa ini pada jurang kehancuran. Semua kita berperan penting dalam membumidaratkan nilai-nilai Pancasila yang mulia, karena sadar atau tidak, Pancasila telah menjadi mata dan nafasnya bangsa ini.
Tugas kita tidak lagi memulai dari nol. Tapi kita tinggal menggali dan mengembangkan tujuan dan cita-cita berdirinya negara-bangsa Indonesia. Mengutip ucapan Bung Karno, "Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah" atau sering kita singkat JASMERAH. JASMERAH tidak hanya menekankan pengetahuan sejarah, tetapi lebih kepada penghargaan kepada jasa-jasa para pahlawan. Sebab, sejarah tidak mungkin ada kalau tidak ada para pahlawan. 
Pancasila adalah sebuah jasa  besar yang akan menghidupi Nusantara kita. Tapi Pancasila tidak akan mampu menghidupi Nusantara jika kita tidak ada. Kembali saya katakan, Pancasila itu ada dalam jiwa bangsa kita.
Pancasila bukan untuk dijaga-jaga Kawan, tapi untuk dihayati, dijiwai dan diamalkan!

Pematangsiantar, 29 Juli 2017
Alfredo Pance Saragih.



DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

Post a Comment
GET NOTIFICATIONS